Halal Guide – Apa yang dilakukan salah satu perusahaan sosis di Jawa Timur dalam
menghadapi krisis moneter cukup menarik untuk disimak. Selama krisis moneter ini pasokan selongsong
sosis sangat kurang di Indonesia. Karena
kurs dolar yang semakin tingi, maka banyak importir selongsong yang
menghentikan kegiatannya. Salah satunya
adalah PT.Devro yang mengimpor selongsong sosis dari Australia. Saat ini perusahaan itu hanya menghabiskan sisa stok yang ada, karena untuk
mengimpor kembali sudah mengalami kesulitan.
Akibatnya bahan penolong sosis yang masih 100% diimpor itu sulit
didapatkan. Kalaupun ada barang,
harganya sudah melambung tinggi.
Sehingga tidak layak untuk digunakan dengan harga jual yang berlaku saat
ini.
Menghadapi
kondisi itu PT.Surya Jaya Abadi, salah satu produsen sosis di Mojokerto mencoba
menggunakan pembungkus plastik panjang untuk produk sosis yang dipotong-potong
(cold cut). Jenis selongsong itu hanya
digunakan untuk membantu dalam membentuk sosis menjadi bulat lonjong. Setelah prosesnya selesai, maka bungkus itu
dibuka kembali untk dipotong-potong, dan sisa bungkusnya dibuang.
Selongsong Sosis
Sosis
merupakan produk olahan daging yang mulai populer di kalangan masyarakat. Dengan bahan dasar daging, protein nabati,
dan bumbu-bumbuan, maka sosis merupakan salah satu alternatif makanan yang
cukup tinggi nilai gizinya. Berbagai
makanan restoran saat ini sudah banyak menggunakan sosis sebagai salah satu
yang ditawarkan.
Jenis
dan ragam makanan yang berasal dari Eropa itu sangat bervariasi. Perbedaan itu disebabkan oleh jenis bumbunya,
jenis daging yang digunakan, cara pengolahan, warna dan ukurannya. Dari segi ukuran sosis dibedakan atas sosis
besar (cold cut) dan sosis kecil (yang biasa disebut sosis). Makanan ini biasa dibungkus dengan selongsong
(casing) khusus yang digunakan untuk sosis.
Jenis
selongsong yang digunakan untuk membungkus sosispun berbeda-beda tergantung
dari jenis sosis yang akan dibuat.
Selongsong yang digunakan untuk sosis ukuran kecil biasanya terbuat dari
film kolagen yang berasal dari tulang hewani.
Jenis selongsong sosis ini termasuk ke dalam kelompok yang dapat dimakan
(edible), karena berasal dari bahan yang tidak membahayakan tubuh.
Hal
ini disebabkan karena ukuran sosis yang kecil sehingga terlalu sulit untuk
memisahkan sosis dengan kulitnya. Oleh
karena itu selongsong dibuat dari bahan yang dapat dimakan.
Menggunakan Plastik
Jenis
sosis lain yang kerap digunakan oleh restoran burger adalah sosis ukuran besar,
biasanya dijual dalam bentuk potongan-potongan melintang. Produk ini antara lain digunakan untuk isi
burger. Karena itu setelah proses
pemasakan dan pendinginan, sosis yang berdiameter sekitar 10 cm tersebut
bungkusnya langsung dibuka dan dipotong-potong melintang (slicing). Bungkus atau selongsong tadi langsung dibuang
karena sosis yang tergolong ke dalam jenis cold cut ini dipasarkan tanpa
selongsong lagi.
Jenis
selongsong yang dibuang itu biasanya dibuat dari bahan selofan yang tidak dapat
dimakan manusia. Nah, jenis selongsong
inilah yang dapat disubtitusi dengan bahan lain yang lebih murah. Para pengusaha mulai menggunakan jenis
plastik biasa dari jenis poly ethylen (PE) atau poly propylen (PP) yang jauh
lebih murah. Toh akhirnya juga dibuang
lagi.
Penggunaan
plastik yang lebih murah ini sebenarnya tidak secara langsung berhubungan
dengan kualitas. Masalahnya adalah pada
proses pembuatannya yang lebih rumit.
Dengan menggunakan selongsong selofan, proses pembungkusan sosis dapat
dilakukan secara otomatis, karena disainnya sudah dirancang sedemikian rupa
sehingga dapat masuk ke dalam alat pengisian secara otomatis. Sedangkan dengan menggunakan plastik biasa,
proses otomatis itu sulit dilakukan, karena ukurannya biasanya lebih
pendek. Sehingga mau tidak mau harus
dilakukan secara manual.
Akan
tetapi dengan penjualan yang terus merosot, proses yang berlangsung secara
manualpun masih dapat mengejar target produksi yang semakin kecil. Di sisi lain, penggunaan proses manual ini
juga dapat menyelamatkan penggunaan tenaga kerja. Sebab dengan cara manual itu waktu prosesnya
berlangsung lebih lama dan memerlukan lebih banyak tenaga kerja. Sehingga dengan demikian mereka tidak perlu
pulang siang lagi. Af (Jurnal Halal LP POM MUI) |