Bekerja di Dunia Pertelevisian PDF Print E-mail
Wednesday, 17 January 2007
ImageTelevisi adalah media yang sangat vital dalam rangka menyebarkan informasi dan opini di tengah masyarakat. Kalau televisi berada di tangan orang-orang yang baik, maka materi acaranya insya Allah akan ikut baik juga.  Sebaliknya, bila televisi diisi oleh orang-orang hedonis, hipokrit, materialis, hewanis bahkan a moral, maka televisi adalah media maksiat yang luar biasa.

Maka untuk bekerja di televisi, bagi seorang muslim yang baik ada tiga kemungkinan.

Pertama, dia bekerja dengan baik di dunia pertelevisian untuk sebuah tujuan. Yaitu mengembalikan fungsi televisi sebagai media kebaikan. Mungkin awalnya dia hanya seorang
nobody, tapi seiring dengan berjalannya waktu, karirnya lama-lama meningkat dan menjadi orang penting yang sangat menentukan arah materi siaran. Maka ditayangkanlah semua hal yang mengajak kepada kebaikan. Meski barangkali banyak yang tidak suka. Dengan kondisi demikian, maka berkarir di dunia televisi tentu sangat prospektif dan bermanfaat buat agama dan kebaikan.

Kedua, dia bekerja dengan baik di dunia televisi, namun sulit baginya untuk masuk ke wilayah penentu kebijakan materi siaran. Maka tujuannya sekedar mencari ilmu pengetahuan, pengalaman dan jam terbang. Nanti pada suatu saat bila ada orang-orang baik mau membuat televisi, dia sudah siap masuk ke dalamnya. Ini pun sebuah bentuk karir yang baik pula.

Ketiga, dia bekerja hanya sekedar menyambung hidup di dunia televisi. Sama sekali tidak mampu mempengaruhi kebijakan produser materi acara. Namun dia berusaha menjaga diri dari pengaruh kehidupan negatif, hura-hura, hedonis, a moral, permisif dan dekaden. Terus terang, life style seperti ini amat akrab di dunia tersebut. Bila dia masih belum punya alternatif lain dalam menyambung hidupnya, masih mungkin untuk bekerja di dunia Televisi.

Keempat, dia bekerja di dunia televisi dengan segala resiko dan konsekuensinya. Life style yang negatif itu dianggapnya sebagai bagian dari kemajuan zaman dan tidak perlu terlalu dirisaukan. Sebaliknya, dunia entertainment dianggapnya adalah sebuah justifikasi atas semua yang haram itu. Dalam kondisi demikian, maka haram hukumnya bekerja dengan kondisi demikian.

Bahkan orang-orang yang demikian akan memanen dosa jauh lebih banyak di akhirat kelak. Lebih dari yang pernah diduganya di dunia ini. Sebab kerjanya menyesatkan manusia, menyebarkan kemaksiatan, memasyarakatan zina dan pengumbaran aurat wanita. Dan yang paling parah adalah perusakan moral dan akhlak sebuah generasi.

Maka setiap dosa yang dilakukan masyarakat karena pengaruh negatif televisi, dia pun akan ikut menanggung akibatnya di neraka. Bayangkan kalau yang menonton tayangan negatif itu ada 100 juta orang di seluruh tanah air, maka selain dosa pribadi, ada dosa dari 100 juta orang yang harus ditanggungnya.(kit/sol)

 
< Prev   Next >