Televisi adalah media yang sangat vital dalam
rangka menyebarkan informasi dan opini di tengah masyarakat. Kalau televisi
berada di tangan orang-orang yang baik, maka materi acaranya insya Allah akan
ikut baik juga. Sebaliknya, bila
televisi diisi oleh orang-orang hedonis, hipokrit, materialis, hewanis bahkan a
moral, maka televisi adalah media maksiat yang luar biasa.
Maka untuk
bekerja di televisi, bagi seorang muslim yang baik ada tiga kemungkinan.
Pertama, dia bekerja dengan baik di dunia pertelevisian untuk sebuah
tujuan. Yaitu mengembalikan fungsi televisi sebagai media kebaikan. Mungkin
awalnya dia hanya seorang ‘nobody’, tapi seiring dengan berjalannya
waktu, karirnya lama-lama meningkat dan menjadi orang penting yang sangat
menentukan arah materi siaran. Maka ditayangkanlah semua hal yang mengajak
kepada kebaikan. Meski barangkali banyak yang tidak suka. Dengan kondisi
demikian, maka berkarir di dunia televisi tentu sangat prospektif dan
bermanfaat buat agama dan kebaikan.
Kedua, dia bekerja dengan baik di dunia televisi, namun sulit baginya
untuk masuk ke wilayah penentu kebijakan materi siaran. Maka tujuannya sekedar
mencari ilmu pengetahuan, pengalaman dan jam terbang. Nanti pada suatu saat
bila ada orang-orang baik mau membuat televisi, dia sudah siap masuk ke
dalamnya. Ini pun sebuah bentuk karir yang baik pula.
Ketiga, dia bekerja hanya sekedar menyambung hidup di dunia televisi.
Sama sekali tidak mampu mempengaruhi kebijakan produser materi acara. Namun dia
berusaha menjaga diri dari pengaruh kehidupan negatif, hura-hura, hedonis, a
moral, permisif dan dekaden. Terus terang, life style seperti ini amat akrab di
dunia tersebut. Bila dia masih belum punya alternatif lain dalam menyambung
hidupnya, masih mungkin untuk bekerja di dunia Televisi.
Keempat, dia bekerja di dunia televisi dengan segala resiko dan
konsekuensinya. Life style yang negatif itu dianggapnya sebagai bagian dari
kemajuan zaman dan tidak perlu terlalu dirisaukan. Sebaliknya, dunia
entertainment dianggapnya adalah sebuah justifikasi atas semua yang haram itu.
Dalam kondisi demikian, maka haram hukumnya bekerja dengan kondisi demikian.
Bahkan orang-orang yang demikian akan memanen dosa jauh lebih banyak di akhirat
kelak. Lebih dari yang pernah diduganya di dunia ini. Sebab kerjanya
menyesatkan manusia, menyebarkan kemaksiatan, memasyarakatan zina dan
pengumbaran aurat wanita. Dan yang paling parah adalah perusakan moral dan
akhlak sebuah generasi.
Maka setiap dosa yang dilakukan masyarakat karena pengaruh negatif televisi,
dia pun akan ikut menanggung akibatnya di neraka. Bayangkan kalau yang menonton
tayangan negatif itu ada 100 juta orang di seluruh tanah air, maka selain dosa
pribadi, ada dosa dari 100 juta orang yang harus ditanggungnya.(kit/sol)
|