Dalam sebuah kesempatan belanja rutin bulanan keluarga kecil saya beberapa waktu lalu saya menyadari, betapa mudahnya zat-zat haram mengancam keluarga saya.
Pada waktu itu, seperti biasa saya dan istri mengajak kedua putri kembar kami yang masih balita mengunjungi sebuah pasar swalayan baru di dekat rumah kami. Kedua putri saya nampak bersemangat setiap kali diajak berbelanja di awal bulan. Kami pun dengan segera menyelesaikan urusan belanja kami di swalayan yang cukup besar itu.
Setelah semua kebutuhan bulanan telah kami masukkan ke keranjang belanjaan, istri saya mengajak kedua putri saya menuju tempat buah segar, sementara saya tidak mengikuti mereka bertiga, karena masih ada barang yang harus saya cari. Tidak jauh dari tempat buah-buahan saya mendapatkan apa yang saya cari, maka saya segera kembali menuju istri dan anak-anak yang sedang berada di dekat rak “jeruk shantang” yang berukuran kecil.
Melihat jeruk yang berukuran mini itu, anak bungsu saya tertarik. Tanpa sepengetahuan umminya, anak saya yang sedang berdiri di dalam keranjang belanjaan langsung mencomot sebutir jeruk dari atas rak dan mulai mengoyak kulitnya sedikit demi sedikit. Saya yang dari jauh mengamati aksi anak saya tersebut tiba-tiba merasa ada yang tidak beres. Seketika itu secara spontan saya meneriaki istri saya, sembari memberi isyarat agar jeruk yang dipegang anak saya itu tidak sampai masuk ke mulutnya.
Jeruk itu belum ditimbang! Itulah masalah utamanya..!!
Saya tak bisa membayangkan, segigit jeruk yang belum ditimbang akan menjadi komponen haram dalam daging putri kecil saya itu. Ya, jeruk yang dimakan dalam swalayan, tanpa ditimbang tentunya tidak akan masuk ke dalam jumlah yang kita bayar di kasir, berarti jeruk itu sebenarnya masih milik swalayan – bukan sampel untuk dicoba – yang dimakan oleh putri saya tanpa membayar..!!
Untungnya saya bisa mencegah hal itu terjadi, akhirnya istri saya membawa jeruk yang sudah terkelupas kulitnya tersebut bersama beberapa jeruk yang lain ke tempatt penimbangan. Setelah petugas penimbang memberikan label harga pada sekantong jeruk tadi, barulah si bungsu saya izinkan untuk melanjutkan memakan jeruk yang diinginkannya, walaupun belum kami bayar ke kasir – namun sudah ada label harga yang harus dibayar ke kasir.
Sepulang dari kejadian di swalayan itu, masih ada yang mengganjal di hati saya. Kulit jeruk yang dikupas oleh anak saya tadi, tidak ikut tertimbang…! Saya hanya berdoa, semoga kulit yang tak tertimbang tadi tidak sampai mempengaruhi harga yang tertera di label, seandainya kulit itu ikut tertimbang…
Mari kita jaga keluarga kita dari tumbuhnya daging haram sekecil apapun…
2/5/10 ba’da subuh
Penulis: Rizky Mukhlisin (masrizky.wordpress.com)
No related posts.

artikelnya juga di posting di forum MyQ kan
jaman sekarang rasa takut pada Allah makin langka… jadi kalo anda merasa seperti artikel diatas, itu bagus… artinya iman masih ada …. semoga dapat dipertahankan, ditingkatkan kualitas iman anda, saya dan seluruh umat muslim di seluruh dunia
Amin
subhanallah… sebuah kehati-hatian yang harus kita jaga. jika kita tengok ke belakang, entah sudah berapa banyak makanan tidak halal yang masuk dalam tubuh kita… hanya pengharapan untuk mendapat ampunan-Nya.. semoga Allah mengampuni kita…
assalamualaikum…. berkunjung…
Subhanallah……….langkah anda sangat terpuji dan inilah yang diharapkan Allah Swt dan Rasulnya agar menjaga Juriat kita dari siksa Api Neraka, Semoga Anda dan sekeluarga selalu dalam keberkahan Allah SWT……….Amiiin
setuju dengan prilaku yang di tulis dalam artikel,mudah-mudahan masih banyak orang yang mengamalkannya.amin
assalamu’alaikum…
saya minta ijin untuk share artikelnya ya….
hati sering miris melihat konsumen di supermarket yang sering memakan buah yg dipajang, padahal ada tulisan mohon timbang lebih dahulu. mereka rakus, tidak tahu atau pura pura tidak tahu, wallahu a’lam, semoga kita terhindar dari hal tsb. wassalam
Subhanallah…..!! Mudah – mudahan keluarga kecil kami bisa meneladaninya.
Seandainya para pejabat kita memiliki sifat seperti artikel diatas..