Home > Makanan > Restoran Cina Tanpa Ang Ciu, Mungkinkah?

Restoran Cina Tanpa Ang Ciu, Mungkinkah?

March 4th, 2009

450px-chinesericewine

Pertama kali datang ke Indonesia, orang-orang cina mempopulerkan olahan mie yang berbahan dasar tepung, diracik dengan berbagai macam bumbu sehingga menghasilkan hidangan yang sangat istimewa. Seiring berjalannya waktu kaum pendatang itu tidak hanya mempopulerkan mie saja namun masakan cina yang lain seperti fu yung hai, kwetiau, makanan yang berbahan dasar udang dan sebagainya.

Tidak banyak yang mengetahui rahasia bumbu yang dipakai kaum pendatang yang kebanyakan non muslim ini, Apakah bumbu pelezat yang digunakan pada masakan cina termasuk kategori halal sehingga aman dikonsumsi oleh umat muslim ?

Bukan rahasia lagi apabila sebagian besar pedagang makanan menggunakan bumbu penyedap sintetis untuk menghasilkan hidangan yang lezat. Berbeda dengan pedagang yang berasal dari etnis tionghoa. Mereka tidak banyak menggunakan bumbu penyedap sintetis tetapi ang ciu atau arak cina dan minyak babi yang hukumnya haram. Kedua bumbu pelezat inilah resep yang diturunkan oleh koki-koki tionghoa.

Berangkat dari keinginan untuk menyajikan masakan cina yang halal, Resto Lezaat yang berada di kawasan tegalan, Jakarta Pusat didirikan. Salah satu pemilik Resto Lezaat, Andrew Irfan tidak menampik adanya penggunaan angciu dan minyak babi dalam masakan cina pada umumnya. Di resto Lezaat ini kedua bahan tersebut diganti dengan bumbu bawang putih, aplikasi dari saos tiram, kecap asin dan bumbu-bumbu lain yang dijamin kehalalannya. “ Sesuai dengan tagline Resto Lezaat “ Halal dan Berkah” Kami tidak hanya menyajikan masakan cina yang lezat saja tetapi juga sehat dan membawa keberkahan pada pengunjung” ujar Andrew sedikit berpromosi.

Walupun mengusung konsep “Halal dan Berkah” tidak otomatis pengunjung di Resto Lezaat ini umat muslim justru sebaliknya. Kebanyakan pengunjung yang datang mayoritas etnis tionghoa non muslim. Mereka tidak pernah mempermasalahkan halal, tetapi memprioritaskan kelezatan cita rasa masakan. Ada ungkapan di sebagian besar pedagang masakan cina, apabila pengujung berasal dari etnis cina berduyun-duyun memenuhi resto artinya masakan yang disajikan memang lezat.

Sumber: Jurnal Halal LP POM MUI

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Digg
  • MySpace
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • email
  • Furl
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis
  • Yahoo! Buzz
Dengan memasukan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari halalguide.info di inbox anda:


admin Makanan ,

  1. dama
    April 27th, 2009 at 12:36 | #1

    kalo cuka masak itu sama dng ang ciu kah ?

  2. rey
    January 5th, 2010 at 13:12 | #2

    tapi memang kok, masakan yang dimasak tanpa angciu kurang berasa makanan chinese nya, dan kalau minyak babi sih bukan hanya etnis tionghoa yang tenglang dan singkek aja yang pakai, hoa na juga banyak yang pake.. contohnya masakan orang Bali, juga dari NTT ada Se’i dan Rusuk, kemudian ada juga yang namanya kacang brenebon semuanya pakai minyak dan kaldu babi, yang pasti bakalan lebih enak dari kaldu atau minyak hewani lainnya!

  3. rey
    January 5th, 2010 at 13:15 | #3

    oh ya kalau di kalimantan lebih heboh lagi masaknya, di Berau kalimantan Timur, masak Babi pakai Bambu, kemudian dibakar, selesai dimasak bambu dibuka yang keluar minyak babi semua wuih maknyos.. tapi yang namanya makanan, apapun makanannya kalau berlebihan juga gak baik, so yang wajar aja dari bahan, porsi dan bumbu masakan (kan ada pantangan dari segi agama dan medis). salam untuk penikmat rasa Nusantara.

  1. No trackbacks yet.