Apakah Mereka Mengerti Kehalalan?
Pada suatu perjalanan tugas audit ke kota Semarang, pada kesempatan saat akan sarapan pagi cerita ini dimulai. Sebagaimana biasanya , kami sudah meninggalkan rumah sebelum subuh untuk mengejar pesawat pagi, jam 6. Jadi sudah dapat dipastikan bahwa hampir semua rombongan belum sarapan pagi. Sehingga begitu sampai di Semarang, maka perut pun sudah meminta haknya. Sungguh pun di pesawat , sudah sempat di ganjal dengan roti atau snack lainnya. Tapi bukan orang Indonesia tulen namanya kalau belum makan nasi.
Mengetahui kondisi demikian, maka pengusaha cina pribumi yang menjemput kami pun berinisiatif untuk mengajak kami sarapan pada suatu restoran . Awalnya kami ingin makan soto disuatu tempat yang sudah biasa dan “aman”. Namun si pengusaha tersebut ingin membawa ke suatu tempat makan soto yang lebih enak, katanya. “Kita ke tempat makan soto, Selan”, begitu katanya. Lebih lanjut ia mengatakan “sotonya enak dan terkenal di sini”. Terus terang , nama tersebut baru pertama kalinya saya dengar, bahkan nama tersebut juga masih asing bagi kolega kami yang berasal dari daerah .
Akhirnya sampailah kami di soto Selan tersebut. Saat pertama melihat bangunan/tempat tersebut, hati saya sudah memastikan “tidak aman” untuk mengkonsumsi di tempat tersebut. Tapi demi menghargai ajakan tuan rumah, dengan berat langkah saya tetap berjalan menuju ke dalam. Saat akan masuk dan melihat kondisi restoran tersebut , mata saya selalu awas dengan kegiatan dan orang-orang bekerja di tempat tersebut.
Ketika duduk, di meja sudah tersedia aneka makanan untuk “teman makan soto”. Ada tempe ,tahu goreng… dan saya melihat seoonggok besar berwarna hitam, seperti hati. Saya yakin itu bukan hati, tetapi marus. Perut sudah semakin mual rasanya. Saya melihat teman-teman lain, juga tidak terlalu “bahagia” berada di tempat tersebut. Akhirnya saya sudah tidak tahan lagi untuk keluar dari situ, seraya bertanya dengan pelayan , “ ini sate apa mbak?”, seraya menunjuk sate yang ada di dekat saya-terus terang saya curiga sekali. Si pelayan menjawab dengan enteng : “sate babi”.
Serta merta saya diiukuti dengan teman yang lainnya beranjak dari tempat tersebut. Si pengusaha masih belum mengerti kenapa kami tidak berkenan di tempat tersebut. Walaupun salah satu kolega kami sudah menjelaskan kenapa kami tidak bersedia makan di tempat tersebut.
Keyakinan saya bertambah terhadap si pengusaha bahwa memang dia tidak mengerti banyak tentang halal-haram . Karena pada saat makan siang ia masih menawarkan untuk makan siang di restoran milik ibunya. Menurutnya restoran ibunya menyajikan masakan Eropa dan manca negara lainnya. Saat kami tanyakan apakah restoran tersebut juga menjual babi, ia menjawab bisa jadi ada menu babi berdasarkan pesanan tamu.
Kemudian kami menjawab bahwa kami tidak mengkonsumsi makanan di restoran, dimana babi juga disajikan di tempat yang sama. Pengusaha tersebut masih belum mengerti seraya bertanya: “toh kita bisa memilih menu ayam atau daging dan tidak babi?” Kami pun menjelaskan bahwa kehalalan suatu makanan itu tidak hanya dilihat dari materi yang digunakan, tetapi juga pada proses pembuatan dan penyajiannya. Penggunaan alat pada saat memasak, sangat memungkinkan terjadinya kontaminasi silang saat persiapan di dapur. Ditambah lagi jika tidak ada pemisahan alat memasak yang digunakan untuk makanan yang mengandung babi dan yang tidak mengandung babi. Atau kalau pun alat masaknya terpisah, tetapi pada dapur yang sama, maka kontaminasi silang pun tidak dapat di hindari.Setelah mendengar penjelasan tersebut, si pengusaha pun baru mengerti.
Kisah lain, terjadi pada rekan kami yang bertugas di yogyakarta. Lagi-lagi permasalahannya pada saat makan. Saat hendak makan malam, si pengusaha yang bertindak sebagai tuan rumah mengajak makan di suatu restoran bergengsi. Kemudian ketika melihat menu, rekan kami melihat bahwa restoran tersebut juga menjual menu yang mengandung babi. Kemudian mereka menolak untuk makan malam di tempat tersebut dengan alasan restoran tersebut menjual babi.
Percaya atau tidak, si pengusaha yang notabenenya muslim menanyakan apa permasalahannya? Menurutnya kenapa harus dipermasalahkan karena mereka tidak akan memesan menu yang ada babinya.Ternyata tidak hanya non muslim yang belum mengerti , tetapi saudara seiman kita pun belum memahami hal tersebut.
Kemudian saya terfikir , saudara muslim saya yang pengusaha ini mungkin terbiasa hidup di luar negeri. Sebab memilih makan di restoran di luar negeri ,sangat sulit untuk mencari restoran yang tidak menjual babi. Walaupun praduga itu sebenarnya tidak terlal tepat,karena selama kita mau berusaha keras, untuk mendapatkan makanan yang halal , rasanya tidak sulit saat .
Kisah atau cerita terakhir membuat saya tertegun sejenak. Jangankan orang non muslim, saudara kita yang muslim pun ternyata masih banyak yang belum mengerti tentang halal-haram. Ini tentunya PR bagi saya, teman-teman saya yang berada dalam korps yang sama, untuk lebih aktif menjelaskan kepada teman yang lain , para ibu yang menjadi “decision maker”- di rumah tangga dalam menentukan menu – tentang apa itu halal haram. Karena bisa jadi ketidaktahuan tersebut karena belum sampainya informasi atau pun ketidakpeduliannya.
Namun apapun alasannya, saya dan teman-teman yang sudah berkecimpung dalam urusan halal ini, memiliki kewajiban untuk menyampaikan kepada khalayak , terutama saudara muslim kita tentang apa itu halal dan haram. Wallahualam bis shawab.[vina]
Jurnal Halal LP POM MUI
No related posts.
Komentar Terkini